Materialisme, pemahaman dasar dari naturalisme (mekanistik) ; Hanya berdasarkan kebiasaan saja maka manis itu manis, panas itu panas, dingin itu dingin, warna itu warna. Dalam kenyataannya hanya terdapat atom dan kehampaan. Artinya, objek dari pengindraan sering kita anggap nyata, padahal tidak demikian. Hanya atom dan kehampaan itulah yang bersifat nyata. ( dari buku filsafat ilmu prngantar popular karya jujun s.suriasumantri)
Dengan kata lain panas, manis , dingin, warna adalah merupakan terminology yang kita berikan kepada gejala yang kita tangkap lewat pancaindra. Teori ini tak masalah ketika diterapkan pada zat2 mati seperti batu, besi, api dll namun bagaimana dengan makhluk hidup termasuk manusia sendiri?
Disini kaum mekanistik di tentang oleh kaum vitalistik, kaum mekanistik melihat gejala alam termasuk makhluk hidup hanya merupakan gejala kimia – fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substantive dengan dengan teori kaum mekanistik.
Sudah merupakan kenyataan yang tidak usah diperdebatkan lagi bahwa proses berpikir manusia menghasilkan pengetahuan tentang zat (objek) yang di telitinya. Namun apakah kebenarannya hakikat pikiran tersebut, apakah dia berbeda dengan zat yang ditelitinya, ataukah hanya bentuk lain dari zat zat tersebut. Secara fisiologi otak manusia terdiri dari 10 sampai 15 bilion neuron. Neuron adalah sel saraf yang merupakan dasar dari keseluruhan system saraf.
Kaum monistik memiliki pendapat bahwa pikiran dan zat hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama, ibarat zat dan energy , dalam teori relativitas Einstein energy hanya merupakan bentuk lain dari zat. Dalam hal ini maka proses berpikir manusia bisa dianggap sebagai proses elektrokimia dari otak.
Pragmatis
Pragmatis asal kata yunani yang berarti guna, tindakan atau perbuatan
Pragmatism adalah suatu aliran yang mengajarkan yang benar adalah apa yang bisa membuktikannya sebagai benar , dengan perantara akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
William james pemikir aliran pragmatism, mengemukakan pendapatnya tentang agama, bahwa agama merupakan perasaan tindakan dan pengalaman manusia individual dalam kesunyian bersama yang maha tinggi. Initinya kepercayaan kepada ketinggian, ia mengatakan agama itu perlu karena berguna bagi kehidupan manusia , membuat orang jadi lebih baik.